Tampilkan postingan dengan label UMKM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UMKM. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Januari 2018

Bermodal 50.000, Basir Memilih jadi Pengrajin Sangkar Burung


Muhammad Basir memperlihatkan Sangkar Burung buatannya. (Foto: Yogi Permana)
KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Trend berwirausaha memang saat ini sedang mengalami peningkatan. Sekolah-sekolah Menengah pun sudah memasukan Mata Pelajaran Kewirausahaan, agar nantinya para lulusannya bisa memikirkan prospek dalam dunia wirausaha. Sehingga mereka tak harus bekerja untuk perusahaan luar. Tapi malah membuat perusahaan sendiri nantinya. 

Di Kebumen sendiri, banyak warganya yang memilih untuk berwirausaha, dan nyatanya itu bisa untuk menghidupi keluarganya. Seperti keputusan yang diambil oleh Muhammad Basir (34), memilih untuk menekuni dunia sangkar burung.

Pada Minggu (28/1) di kediamannya yang beralamatkan di Dukuh Rejosari kecamatan Ambal, ia menceritakan awal mula memilih untuk menekuni bisnis sangkar burung. Sekitar 6 tahun yang lalu, yakni pada tahun 2011, ia memutuskan menjadi pengrajin Sangkar Burung. 

Sebulan setelah menikah, ia mulai belajar membuat sangkar burung yang waktu itu hanya bermodal uang Rp 50.000. 

"Waktu itu saya cuma punya modal 50.000, bahan-bahan untuk membuat sangkar burung saya ambil dari kayu yang bekas dipakai acara sambatan saudara", ceritanya sembari memperlihatkan sangkar burung buatannya.

Ia melanjutkan, jika diawal-awal, mampu membuat sebanyak 28 sangkar burung yang dikerjakannya siang dan malam. Saat itu masih ada pengepul yang menampung sangkar burung buatannya. Berapapun jumlah dalam seminggu, akan ditampung dan langsung dibayar cash. Namun sayang, tak berapa lama, pengepul tersebut mengalami kebangkrutan. 

"Pengepulnya malah bangkrut, karena tertipu. Penyebabnya karena dia kirim sangkar burung dalam jumlah besar tapi tidak dibayar", ungkap Muhammad Basir.

Meskipun tanpa pengepul, ia tetep semangat membuat Sangkar Burung dan ia jual sendiri sampai ada pengepul lain yang kemudian datang untuk menampung hingga sampai saat ini. Pengepul tidak menargetkan harus membuat sangkar burung dalam jumlah yang banyak, setiap minggunya akan diambil berapapun jumlah sangkar burung yang berhasil dibuat. Saat ini, dalam seminggu Muhammad Basyir membuat  rata-rata sebanyak 16 sangkar burung, dan dijual dengan harga kisaran Rp 16.000 - Rp 30.000.

Sampai saat ini, baru ada satu orang yang membantu dalam bidang pemasarannya. Dari satu orang tersebut saja terkadang masih kewalahan. Ia juga sudah pernah beberapa kali mengajak warga lainnya untuk kerja sama dalam produksinya. Tapi sayang, karena butuh telaten dan konsisten, banyak yang bosan dan berhenti.

"Sudah pernah saya ajak yang lainnya untuk ikut membantu, ya kerjasama lah dalam produksinya. Tapi tidak lama mereka bosan dan berhenti membuat sangkar burung", ungkap Basyir pada Beritakebumen.info.

Padahal permintaan sangkar burung saat ini sedang meningkat, karena banyak dari masyarakat yang mulai menggandrungi hobi memelihara burung.

Ia menambahkan, sampai saat ini masih mengajak warga masyarakat untuk bekerja sama dalam hal produksi Sangkar Burung. Selain itu, ia juga mulai mengajukan kerjasama dengan toko-toko yang menjual Sangkar Burung, untuk memperbanyak penjualannya.


Reporter : Yogi | Editor : Rahmat | 

Selasa, 26 Desember 2017

13 UKM Mengikuti Klinik Desain Pertama di Kebumen

Foto bareng setelah kegiatan Klinik Desain selesai. (Foto : Zul Kurniawan)
KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Kebumen terdata menjadi golongan Kabupaten dengan kategori termiskin. Namun, dibalik itu ternyata menyimpan potensi SDM yang luar biasa, baik yang berada diluar maupun yang masih tinggal di kota yang khas dengan burung Lawet ini. Tidak disangka juga, mereka yang saat ini tinggal di Kebumen pun mampu bertarung di luar kota sendiri bahkan luar negeri.

Para pemuda yang punya potensi tersebut salah satunya tergabung dalam komunitas Desain Grafis Kebumen (DGK). Anggotanya merupakan para desain grafis, baik mereka yang sekarang masih ikut percetakan maupun yang freelance. Beberapa diantara mereka bayarannya sudah menggunakan nilai mata uang Dollar.

Diluar dugaan, bahwa beberapa anak muda Kebumen mampu bersaing di kancah International. Sebenarnya banyak pemuda Kebumen yang berprestasi di kancah international, meskipun mereka hanya dari rumah, di depan komputer yang tersambung dengan internet. Kemudahan teknologi sekarang ini, memang sangat memudahkan mereka untuk mampu menjangkau lebih luas dan materi pembelajaran yang tak terbatas.

Namun, mereka jarang yang menunjukkan dirinya. Memilih diam dan fokus pada apa yang dipelajari. Mereka hampir tak pernah tersentuh oleh media. Orang taunya hanya anak sekolah, ataupun pemuda pegangguran. Tapi, kalau sudah di depan komputer, jangan ragukan kemampuan mereka.

Kemarin pada minggu (24/12) berlokasi di Griya Pamer Dekranaska, DGK dan Dekranasda mengadakan kegiatan bertajuk Klinik Desain untuk UKM Kebumen. Kegiatan yang berlangsung pada Pukul 09.00 WIB s.d 13.00 WIB ini diikuti oleh 13 UKM Kebumen. Baik dari makanan basah, makanan kering sampai craft.

"Sebenarnya kegiatan ini dari hari sabtu (23/12), peresmian Warung Wifi Corner di Griya Pamer Dekranasda, dan ada juga stan UKM untuk berjualan di halaman Dekranasda", ujar Nikmatul Khoeriyah, petugas Griya Pamer Dekranasda kepada beritakebumen.info.

Ia juga menambahkan, jika apa yang dilakukan oleh DGK sangat membantu para UKM Kebumen, agar desain logo dan kemasan produknya bisa lebih menarik. Sehingga akan diminati pasar nantinya, penjualan mereka pun semakin meningkat.

Dekranasda sendiri telah me-launching Warung Wifi Corner, dalam kelanjutannya akan ada UKM Makanan dan minuman yang stanby jualan di halaman Dekranasda, jadi siapa saja bisa nongkrong serta menikmati wifi di Dekranasda. Disana sudah disediakan tempat duduk yang nyaman juga.

UKM Kebumen saat melakukan konsultasi dengan para Konsultan dari DGK. (Foto: Zul Kurniawan)
Acara peresmian launching warung wifi corner tersebut berlangsung 2 hari, hari pertama untuk pembukaan serta bazaar UKM dan hari keduanya digunakan untuk kegiatan Klinik Desain. UKM-UKM yang ikut Klinik Desain diantaranya Kopi Gemplong, Hury, Zahrin, Roeang Ketjil, Raden Mas, Zetro, Rejosari, Kostajasa, Gula Semut, Frozen Food, Tiwul Pelangi, Ayomi, dan Ceria.

"Teman-teman DGK itu pengen berbuat sesuatu untuk Kebumen, tadinya saja pada kurang yakin sama acara Klinik Desain. Tapi ternyata mereka menikmatinya", tutur Zul Kurniawan selaku penggerak DGK. 

Bukan hanya dari DGK yang merasakan senang, dari peserta pun demikian, dengan memberi support. "Membuat suatu kegiatan atau komunitas itu sangat mudah. Tapi mempertahankannya itu yang lebih berat. Jadi, jaga momen baik ini. Jangan hanya sampai disini saja. Terus bikin kegiatan dengan yang lainnya, jangan hanya dengan UKM", ujar Untung Karnanto selaku perwakilan dari Kostajasa.



Reporter : _Yogi Permana_ | Editor : _Surachmat_ | Sumber : _________

Yuk, Ikuti Lomba Krenova 2018

KEBUMEN ( www.beritakebumen.info ) - Bappeda Kabupaten Kebumen kembali mengadakan lomba kreativitas dan inovasi masyarakat (Krenova) tahun...