Tampilkan postingan dengan label VIDEO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label VIDEO. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Februari 2018

Ribuan GTT dan PTT Gelar Aksi Damai Meminta Pengakuan

Ribuan GTT/PTT gelar orasi di depan Pendopo Rumah Dinas Bupati Kebumen, Senin (12/2/2018). (Foto: Rahmat)




KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Ribuan Guru Tidak Tetap (GTT) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT) dari berbagai penjuru kecamatan berkumpul di depan Pendopo Rumah Dinas Bupati Kebumen, Senin (12/2/2018) pagi. Mereka berorasi menyuarakan keinginan mereka agar mendapat pengakuan atau SK Penetapan dari Bupati dan Gubernur.

Aksi damai ini dimulai dengan jalan kaki dari Jalan HM Sarbini Kebumen menuju ke Jalan Veteran dengan membawa spanduk aspirasi bertuliskan tuntutan, keluh kesah dan gambaran nasib BTT/PTT saat ini. Selanjutnya memutari alun-alun dan sebagaian melakukan salat dhuha di Masjid Agung Kauman Kebumen.

Mereka meminta Bupati Kebumen dan Gubernur Jawa Tengah menerapkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 tahun 2017 tentang guru, dengan cara mengakui GTT sebagai tenaga honorer. Juga Permendikbud Nomor 26 Tahun 2017 sebagai media penyelesaian masalah GTT/PTT.

"Kami mendesak Bupati Kebumen dan Gubernur memberikan SK terhadap GTT/PTT," ujar Ketua FK GTT/PTT, Amed Zuhri.

Teatrikal yang menggambarkan perjuangan GTT/PTT dalam meraih SK. (Foto: Rahmat)





Orasi di depan Pendopo Bupati juga diwarnai dengan aksi teatrikal yang menggambarkan nasib tragis GTT/PTT yang begitu sulitnya mendapat SK.

Ketua PGRI Kabupaten Kebumen, Tukijan berharap agar permasalahan yang dialami GTT/PTT segera terselesaikan. Ia juga berharap agar mulai saat ini tidak ada lagi istilah GTT/PTT, tetapi setara dengan guru lainnya.
Lihat videonya berikut.


Reporter : bk/mat

Selasa, 17 Oktober 2017

Ngeri, Buaya Besar Muncul di Persawahan Warga

Warga Kedungwinangun, Klirong berupaya menangkap buaya Lukulo yang naik ke persawahan Selasa (17/10/2017) pagi.
KLIRONG (www.beritakebumen.info) - Seekor buaya muncul di areal persawahan warga Dusun Pagak, Desa Kedungwinangun, Kecamatan Klirong, Kebumen, Selasa (17/10/2017) pagi. Diduga buaya ukuran jumbo tersebut naik ke daratan karena air sungai Lukulo yang berjarak sekitar 50 meter dari tempat penemuan buaya tersebut meluap sejak Senin (16/10/2017).

Warga sekitar berupaya menagkap buaya dengan alat seadanya berupa tali yang dikaitkan pada bambu, namun gagal. Buaya justru terlihat mengamuk dengan naik ke daratan dan membuka moncongnya lebar-lebar sembari mengibaskan ekornya. Predarot itu berhasil meloloskan diri ke parti yang bermuara ke Sungai Lukulo.






Mengutip kompas.com, Petugas Pengendali Ekosistem Hutan Balai Konservasi Sumber Daya Alam ( BKSDA) Jawa Tengah, Heru Sulistiyanto mengatakan, buaya muara yang naik ke areal persawahan berukuran panjang sekitar 3,5 meter.

Semula warga mengetahui keberadaan satwa karnivora tersebut sekitar pukul 05.30 WIB. "Mereka berusaha untuk menangkap hidup-hidup buaya muara itu, namun gagal karena terkendala pengetahuan cara penanganan satwa dan peralatan yang terbatas," katanya.

Kemudian, petugas dari BKSDA Jawa Tengah, Polres Kebumen, SAR Kebumen, dan Balai Pengelolaan Hutan (BPH) wilayah VII datang setelah mendapat laporan sekitar pukul 08.00 WIB.

“Sekitar satu jam setelah laporan diterima, kami dapat informasi jika buaya itu berhasil meloloskan diri masuk ke parit yang berjarak sekitar 30 meter dari areal sawah. Parit ini bermuara ke aliran Sungai Luk Ulo juga,” ujarnya.

Dari pantauan hingga sore ini, pihaknya memastikan satwa predator ini sudah berada di aliran Sungai Luk Ulo.




Heru mengimbau masyarakat terutama yang berada dan beraktivitas di sekitar bantaran sungai untuk meningkatkan kewaspadaan dan menghindari perjumpaan secara langsung dengan buaya tersebut.

“Kami juga memberikan bantuan peralatan berupa jaring untuk antisipasi tindakan mengisolasi buaya jika naik ke daratan lagi,” jelas Heru.

Menurut Heru, konflik antara satwa liar terutama buaya di wilayah pesisir pantai selatan memang sering terjadi.

Selain karena daya jelajah buaya muara yang tergolong jauh hingga ratusan kilometer, keberadaan mangsa alami buaya berupa ikan, hingga terbawa luapan banjir, menjadi faktor utama masuknya buaya ke lingkungan masyarakat.

Pada tahun ini, BKSDA sedikitnya telah menerima empat laporan pertemuan warga dengan buaya muara.

“Buaya ini masuk jenis yang dilindungi Undang-undang, sehingga kami imbau masyarakat untuk mengutamakan menghindari pertemuan langsung dengan buaya. Jika memang meresahkan, biar petugas yang melakukan tindakan dengan mengevakuasi,” ujarnya. (*)



Yuk, Ikuti Lomba Krenova 2018

KEBUMEN ( www.beritakebumen.info ) - Bappeda Kabupaten Kebumen kembali mengadakan lomba kreativitas dan inovasi masyarakat (Krenova) tahun...